Gunung Puntang merupakan bagian dari rangkaian pegunungan Malabar. Di kawasan ini terdapat bumi perkemahan yang dikelola oleh Perhutani.

Udara yang sejuk pada ketinggian 1.290 meter, sungai yang jernih ditambah dengan paduan pohon pinus yang tumbuh alami, memberikan kedamaian tersendiri saat berada di lokasi ini.

Keindahan panorama sekitar kawasan ini sudah bisa dinikmati sepanjang perjalanan semenjak dari persimpangan jalan Banjaran-Pangalengan dan jalan Gunung Puntang.

Tumbuhan dan tanaman yang terdapat di Gunung Puntang merupakan tanaman campuran antara lain rumput jampang, alang-alang, kaso, kingkilaban, pakis, saliara, kirinyuh, kaliandra, puspa, jamuju, kihujan, flamboyan, bungur, sengan laut, kidamar, dan banyak lagi.

Tak hanya itu, di tempat ini, juga terdapat satwa liar antara lain ular sanca, sanca hijau, ular cibuk, ular cai, ular lingas, ular belang, burung elang, ketilang, tikukur, manintin, surili, menjangan, sero, hingga macan tutul, serigala dan babi hutan.

Pada zaman pemerintahan Hindia Belanda, di kawasan Gunung Puntang pernah didirikan stasiun pemancar radio Malabar yang dibangun pada 1917-1929.

Hingga saat ini, puing-puing bekas peninggalannya masih dapat ditemui sebagai saksi sejarah. Selain stasiun pemancar di lokasi ini, banyak juga bangunan lain yang dijadikan kompleks perkantoran dan rumah dinas.

Untuk kebutuhan energi listrik, dibangun pula pembangkit listrik pada 1919 seperti Lamajan dan Plengan di kawasan Pangalengan Kabupaten Bandung.

Kompleks stasiun pemancar radio Malabar ini sudah lama hancur, yang ada tinggal puing-puing dan belum diketahui siapa serta tahun berapa kantor pemancar radio Malabar ini dihancurkan. Yang pasti, kawasan ini menyimpan banyak kisah sejarah.

Meski tak sohor, tempat ini banyak dikunjungi wisatawan. Sebab, di tempat ini juga terdapat dua buah gua yang konon dibuat oleh Belanda pada 1940, dan diduga ada hubungannya dengan bangunan stasiun pemancar radio tersebut.

Gua tersebut menurut sejarah pernah digunakan sebagai tempat untuk penyimpanan komponen peralatan stasiun radio dan telepon. Gua sepanjang satu kilometer tersebut juga terhubung dengan Curug Siliwangi, sebuah air terjun dengan ketinggian sekitar 100 meter.

Konon, Curug Siliwangi ini juga menyimpan kisah tentang kehidupan Prabu Siliwangi. Menurut cerita yang beredar, curug ini pun terjadi ketika si bocah yang akhirnya dikenal dengan sebutan Prabu Siliwangi, buang air kecil dari atas Gunung Reregan.

Dan karena airnya, Curug Siliwangi diyakini mengandung tuah yang teramat sangat dan dijaga langsung oleh sang Prabu. Maka, tempat ini lah yang dianggap paling keramat ketimbang Cipangubusan atau sumber air keramat, Geger Hanjuang, tempatnya sang Prabu menghabiskan waktu istirahat dan Batu Pedang tempat di mana Prabu menyimpan pedang kesayangannya.

Berjarak sekitar 30 kilometer dari Kota Bandung ke arah selatan. Dari areal wanawisata Gunung Puntang, Curug Siliwangi ini berjarak sekitar 3,5 km (dengan waktu tempuh sekitar 2 jam perjalanan) dengan menyusuri jalan setapak yang cukup terjal dan menyeberangi beberapa sungai yang membelah jalan (tanpa jembatan).

Untuk mencapai lokasi ini tidak begitu sulit, selain dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi, juga dapat ditempuh dengan kendaraan umum.

 

Kontak Kami :

Bandung Offroad – Wisata Offroad Di Bandung

Jl. Bengawan no 69H Bandung
Jawa Barat

Hotline :
085321483672
081220900524
081214220952

WhatsApp : 087 829 320 449
Line : 085 321 483 672
BBM : 51F6B866
Email : info@bandungoffroad.com
Website : www.bandungoffroad.com